Multiple Intellegences and Education

Multiple intelligences adalah teori psikologis tentang pikiran. Ini adalah sebuah kritik tentang ide bahwa ada kepandaian tunggal yang sudah ada sejak lahir, yang tidak bisa diubah, dan yang bisa diukur oleh ahli psikologi.

Lebih Dekat Dengan Epilepsi

Di Indonesia epilepsi dikenal dengan berbagai nama, diantaranya ‘ayan’, ‘sawan’, atau ‘celeng’. Namun penanggulangannya masih belum adekuat. Ini karena masyarakat masih menganggap epilepsi sebagai akibat kekuatan gaib, kutukan atau kesurupan, sehingga banyak penderita epilepsi tidak dibawa kedokter. Epilepsi juga dikaitkan dengan gangguan mental atau intelegensia rendah. Anak dengan epilepsi sering tidak atau keluar sekolah karena mendapat serangan kejang.

Hasil dan Prestasi Belajar

Perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh. Menurut pandangan ahli jiwa Gestalt, bahwa perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh baik perubahan pada perilaku maupun kepribadian secara keseluruhan. Belajar bukan semata-mata kegiatan mekanis stimulus respon, tetapi melibatkan seluruh fungsi organisme yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu.

Dukungan keluarga

Dukungan keluarga sangat bermanfaat dalam pengendalian seseorang terhadap tingkat kecemasan dan dapat pula mengurangi tekanan-tekanan yang ada pada konflik yang terjadi pada dirinya. Dukungan tersebut berupa dorongan, motivasi, empati, ataupun bantuan yang dapat membuat individu yang lainnya merasa lebih tenang dan aman..

14 Pertanyaan tentang Autisme

Semua orang tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi dilahirkan sebagai individu autistik. Semua orangtua mengharapkan anaknya lahir sempurna, tetapi ketika putra/i-nya ternyata tidak sempurna, orangtua juga tidak bisa berbuat lain selain melanjutkan kehidupan sebaik mungkin. Keluarga dengan individu autistik membutuhkan pengertian dan kesempatan, bukan belas kasihan ataupun umpatan.

Jasa Yang Kami Tawarkan

Layanan Individual : 

  • Pemeriksaan Psikologi
  • Konseling individual masalah anak, remaja, maupun dewasa
  • Konseling keluarga, pernikahan

Layanan Pendidikan :

  • Evaluasi Psikologi (TK, SD, SMP, SMA/SMK, dan Perguruan Tinggi
  • Program Evaluasi  Psikologi dan Pendampingan bagi kelas ekselerasi/unggulan
  • Penelusuran Bakat dan Minat untuk Kebutuhan Penjurusan Sekolah/Pendidikan
  • Program Evaluasi Kematangan Sekolah pada Anak TK
  • Pelatihan Pengembangan Pribadi SLTA
  • Pelatihan Konselor Muda SLTA

Layanan Instansi (Perusahaan, Organisasi & Yayasan) :

  • Recrutment & Seleksi Karyawan
  • Evaluasi Psikologi untuk Promosi Karyawan
  • Head Hunting







14 Pertanyaan tentang Autisme



1. Apa itu autisme?

Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibat gangguan ini   sang anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga ia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

2. Apa saja gejalanya?

Gejala individu autistik yang harus muncul (salah satu atau kesemuanya) adalah gangguan interaksi kualitatif, gangguan komunikasi yang tidak diusahakan diatasi dengan kemampuan komunikasi non-verbal, dan perilaku repetitif terbatas dengan pola minat, perilaku dan aktifitas berulang.

3. Bagaimana mendiagnosa autisme?

Walaupun tidak ada satu tes khusus yang tersedia untuk mendiagnosa gangguan perkembangan ini, melalui observasi kriteria-kriteria spesifik dapat ditegakkan satu diagnosa konsensus.

4. Siapa yang berwenang menegakkan diagnosis bahwa seseorang itu autistik?

Apakah seseorang dapat dinyatakan sebagai individu autistik atau tidak, ditentukan melalui tahapan wawancara mendalam dengan orang-orang yang mengasuh anak dan paham akan perkembangan anak di tiga tahun pertama kehidupannya, observasi serta interaksi dengan anak tersebut.Dokter dan psikolog biasanya adalah profesi-profesi yang dijadikan ujung tombak penanganan individu autistik. Profesi lain seperti guru, terapis, maupun pihak saudara, serta orangtuanya sendiri dan anggota masyarakat umum memegang peranan penting dalam memberikan data mengenai kondisi anak sehari-hari secara detil.

5. Apa penyebab autisme?

Sampai saat ini, apa yang menjadi penyebab gangguan spektrum autisme ini belum dapat ditetapkan. Negara-negara adikuasa yang sanggup melakukan penelitian menyatakan bahwa penyebab gangguan perkembangan ini merupakan interaksi antara faktor genetik dan berbagai paparan negatif yang didapat dari lingkungan.

6. Apa saja penanganan yang tersedia bagi individu autistik di Indonesia?

Berbagai terapi terbukti membantu meningkatkan kualitas hidup individu autistik. Penanganan yang sudah tersedia di Indonesia antara lain adalah terapi perilaku, terapi wicara, terapi komunikasi, terapi okupasi, terapi sensori integrasi, pendidikan khusus, penanganan medikasi dan biomedis, diet khusus. Penanganan lain seperti integrasi auditori, oxygen hiperbarik, pemberian suplemen tertentu, sampai terapi dengan lumba-lumba juga sudah tersedia di beberapa kota besar.

7. Apa saja kemungkinan pendidikan bagi mereka?

Individu autistik tidak berbeda dengan individu lain non-autistik. Artinya, kecerdasan setiap individu sangat bervariasi.. Karena tingkat kecerdasan setiap individu berbeda, intensitas gejala autistik yang ada pada setiap individu juga tidak sama, maka kemungkinan pendidikan bagi individu autistik bervariasi dari ‘bisa mencapai pendidikan setinggi-tinggi mungkin’, sampai ‘tidak bisa dididik tetapi hanya dapat dilatih saja’.Setiap individu berbeda.

8. Bagaimana prognosa bagi individu autistik?

Prognosa dan hasil akhir tergantung banyak aspek, antara lain: jumlah dan intensitas gejala, usia deteksi, jenis dan intensitas penanganan, serta peranan orang tua dalam generalisasi penanganan ke dalam kehidupan sehari-hari. Hasil akhir penanganan, tidak dapat diprediksi karena merupakan interaksi banyak sekali faktor. Penanganan merupakan perjuangan panjang dan perlu kerja keras tak terputus sebelum memberikan hasil yang efektif efisien.

9. Adakah kemungkinan bagi individu autistik untuk “sembuh”?

Karena autisme merupakan gangguan perkembangan dan bukan suatu penyakit, penggunaan istilah “sembuh“ menjadi kurang tepat. Yang lebih tepat adalah bahwa individu autistik dapat ditatalaksana agar bisa berbaur dengan individu lain di masyarakat luas semaksimal mungkin, dan pada akhirnya dapat beradaptasi dengan berbagai situasi yang juga dihadapi orang lain pada umumnya.

10. Apakah penggunaan istilah ‘penderita autisme’ sudah tepat?

Istilah ‘penderita’ untuk menggambarkan masing-masing anak, jelas kurang bijak. Anak-anak ini tidak sedang menderita. Lebih bijak bila kita mengacu pada ‘perbedaan individual’ setiap anak dan pada akhirnya atas dasar melihat ciri-ciri unik setiap anak tersebut kemudian menyebut mereka sebagai ‘individu autistik’.

11. Ada berapa orang individu autistik di Indonesia saat ini di tahun 2008?

Indonesia belum pernah melakukan survei berkaitan dengan jumlah individu autistik, karena alasan biaya dan tenaga kerja. Akibat belum dilakukannya survei tersebut, tentu saja kita tidak bisa memastikan berapa jumlah prevalensi individu autistik di Indonesia. Belum ada satu pun lembaga resmi di Indonesia yang memiliki angka prevalensi kejadian individu autistik di Indonesia di tahun 2008 sesuai fakta di lapangan.

12. Apakah betul terjadi peningkatan jumlah individu autistik?

Di Amerika, Inggris, Australia, pemerintah setempat sudah melaksanakan survei untuk mengetahui jumlah individu autistik dari tahun ke tahun. Di Indonesia, indikator peningkatan baru dapat diperoleh dari catatan praktek dokter – yang dari menangani 3-5 pasien baru per tahun, kini menangani 3 pasien baru setiap hari dan itu pun dibatasi – dan catatan penerimaan siswa di sekolah-sekolah. Sulit mendapatkan angka di Indonesia mengingat bahwa belum ada sensus secara resmi, belum meratanya diagnosis bagi anak-anak ini, dan keengganan sebagian orangtua mengakui bahwa putra/i-nya adalah individu autistik.

13. Di keluarga saya tidak ada yang autistik, jadi kami sebaiknya berbuat apa?Mengetahui adanya gangguan perkembangan dan memahami ciri khas mereka ini akan sangat membantu individu autistik dan keluarganya dalam beradaptasi dengan lingkungan masyarakat umum.

14. Apa yang keluarga dengan anak autistik harapkan dari masyarakat dan lingkungan?

Keluarga dengan individu autistik sejak anak masih balita sudah mengalami banyak kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, penyesuaian, menghadapi tuntutan masyarakat. Tingginya biaya penanganan dan sulitnya mendapatkan kesempatan pendidikan juga merupakan tekanan bagi orangtua.Keluarga sangat mengharapkan lingkungan dan masyarakat dapat bersikap lebih empatik terhadap perjuangan mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya, memahami kesulitan mereka, sehingga tidak mengolok-olok perilaku individu autistik atau menyalahkan orangtua bila individu autistik bersikap tidak seharusnya.

Semua orang tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi  dilahirkan sebagai individu autistik. Semua orangtua mengharapkan anaknya lahir sempurna, tetapi ketika putra/i-nya ternyata tidak sempurna, orangtua juga tidak bisa berbuat lain selain melanjutkan kehidupan sebaik mungkin. Keluarga dengan individu autistik membutuhkan pengertian dan kesempatan, bukan belas kasihan ataupun umpatan.



Dukungan Keluarga



Dukungan keluarga didefinisi dari dukungan sosial. Definisi dukungan sosial sampai saat ini masih diperdebatkan bahkan menimbulkan kontradiksi (Yanuasti, 2001). Dukungan sosial sering dikenal dengan istilah lain yaitu dukungan emosi yang berupa simpati, yang merupakan bukti kasih sayang, perhatian, dan keinginan untuk mendengarkan keluh kesah orang lain. Sejumlah orang lain yang potensial memberikan dukungan tersebut disebut sebagai significant other, misalnya sebagai seorang istri significant other-nya adalah suami, anak, orang tua, mertua, dan saudara-saudara.

Sarafino (1990) mengatakan bahwa kebutuhan, kemampuan, dan sumber dukungan mengalami perubahan sepanjang kehidupan seseorang. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal oleh individu dalam proses sosialisasinya. Dukungan keluarga merupakan bantuan yang dapat diberikan kepada keluarga lain berupa barang, jasa, informasi dan nasehat, yang mana membuat penerima dukungan akan merasa disayang, dihargai, dan tentram (Taylor, 1995). Rodi dan Salovey (Smet, 1994) mengungkapkan bahwa keluarga dan perkawinan adalah sumber dukungan sosial yang paling penting. Dukungan keluarga merupakan suatu bentuk hubungan interpersonal yang melindungi seseorang dari efek stress yang buruk (Kaplan dan Sadock, 1998). Menurut Friedman (1998), dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.

Dari definisi yang disebutkan, penulis mengambil kesimpulan bahwa dukungan keluarga sangat bermanfaat dalam pengendalian seseorang terhadap tingkat kecemasan dan dapat pula mengurangi tekanan-tekanan yang ada pada konflik yang terjadi pada dirinya. Dukungan tersebut berupa dorongan, motivasi, empati, ataupun bantuan yang dapat membuat individu yang lainnya merasa lebih tenang dan aman. Dukungan didapatkan dari keluarga yang terdiri dari suami, orang tua, ataupun keluarga dekat lainnya. Dukungan keluarga dapat mendatangkan rasa senang, rasa aman, rasa puas, rasa nyaman dan membuat orang yang bersangkutan merasa mendapat dukungan emosional yang akan mempengaruhi kesejahteraan jiwa manusia. Dukungan keluarga berkaitan dengan pembentukan keseimbangan mental dan kepuasan psikologis.

Fungsi dukungan keluarga

Dukungan informasional

Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan diseminator (penyebar) informasi tentang dunia. Menjelaskan tentang pemberian saran, sugesti, informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu masalah. Manfaat dari dukungan ini adalah dapat menekan munculnya suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang khusus pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat, usulan, saran, petunjuk dan pemberian informasi.

Dukungan penilaian

Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah, sebagai sumber dan validator indentitas anggota keluarga diantaranya memberikan support, penghargaan, perhatian.

Dukungan instrumental

Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit, diantaranya: kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum, istirahat, terhindarnya penderita dari kelelahan.

Dukungan emosional

Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Aspek-aspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan didengarkan.

Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan sosial yang dipandang oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses/diadakan untuk keluarga (dukungan sosial bisa atau tidak digunakan, tetapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan). Dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan sosial keluarga internal, seperti dukungan dari suami/istri atau dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial keluarga eksternal (Friedman, 1998).

Dukungan sosial keluarga adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang masa kehidupan, sifat dan jenis dukungan sosial berbeda-beda dalam berbagai tahap-tahap siklus kehidupan. Namun demikian, dalam semua tahap siklus kehidupan, dukungan sosial keluarga membuat keluarga mampu berfungsi dengan berbagai kepandaian dan akal. Sebagai akibatnya, hal ini meningkatkan kesehatan dan adaptasi keluarga (Friedman, 1998).

Wills (1985) dalam Friedman (1998) menyimpulkan bahwa baik efek-efek penyangga (dukungan sosial menahan efek-efek negatif dari stres terhadap kesehatan) dan efek-efek utama (dukungan sosial secara langsung mempengaruhi akibat-akibat dari kesehatan) pun ditemukan. Sesungguhnya efek-efek penyangga dan utama dari dukungan sosial terhadap kesehatan dan kesejahteraan boleh jadi berfungsi bersamaan. Secara lebih spesifik, keberadaan dukungan sosial yang adekuat terbukti berhubungan dengan menurunnya mortalitas, lebih mudah sembuh dari sakit dan dikalangan kaum tua, fungsi kognitif, fisik dan kesehatan emosi (Ryan dan Austin dalam Friedman, 1998).

Faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga

Menurut Feiring dan Lewis (1984) dalam Friedman (1998), ada bukti kuat dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa keluarga besar dan keluarga kecil secara kualitatif menggambarkan pengalaman-pengalaman perkembangan. Anak-anak yang berasal dari keluarga kecil menerima lebih banyak perhatian daripada anak-anak dari keluarga yang besar. Selain itu, dukungan yang diberikan orangtua (khususnya ibu) juga dipengaruhi oleh usia. Menurut Friedman (1998), ibu yang masih muda cenderung untuk lebih tidak bisa merasakan atau mengenali kebutuhan anaknya dan juga lebih egosentris dibandingkan ibu-ibu yang lebih tua.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga lainnya adalah kelas sosial ekonomi orangtua. Kelas sosial ekonomi disini meliputi tingkat pendapatan atau pekerjaan orang tua dan tingkat pendidikan. Dalam keluarga kelas menengah, suatu hubungan yang lebih demokratis dan adil mungkin ada, sementara dalam keluarga kelas bawah, hubungan yang ada lebih otoritas atau otokrasi. Selain itu orang tua dengan kelas sosial menengah mempunyai tingkat dukungan, afeksi dan keterlibatan yang lebih tinggi daripada orang tua dengan kelas sosial bawah.

Dukungan keluarga menurut Francis dan Satiadarma (2004) merupakan bantuan/sokongan yang diterima salah satu anggota keluarga dari anggota keluarga lainnya dalam rangka menjalankan fungsi-fungsi yang terdapat di dalam sebuah keluarga. Dukungan yang dimiliki oleh seseorang dapat mencegah berkembangnya masalah akibat tekanan yang dihadapi. Seseorang dengan dukungan yang tinggi akan lebih berhasil menghadapi dan mengatasi masalahnya dibanding dengan yang tidak memiliki dukungan (Taylor, 1995, h. 277). Pendapat diatas diperkuat oleh pernyataan dari Commission on the Family (1998, dalam Dolan dkk, 2006, h. 91) bahwa dukungan keluarga dapat memperkuat setiap individu, menciptakan kekuatan keluarga, memperbesar penghargaan terhadap diri sendiri, mempunyai potensi sebagai strategi pencegahan yang utama bagi seluruh keluarga dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari serta mempunyai relevansi dalam masyarakat yang berada dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan.

Dukungan Keluarga terhadap Pengobatan Penyakit

Menurut Sarwono dalam Yusuf (2007), dukungan adalah suatu upaya yang diberikan kepada orang lain, baik moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan kegiatan. Sistem dukungan untuk mempromosikan perubahan prilaku ada 3, yaitu :
  1. dukungan material adalah menyediakan fasilitas latihan.
  2. dukungan informasi adalah memberikan contoh nyata keberhasilan seseorang dalam melakukan diet dan latihan. 
  3. dukungan emosional atau semangat adalah memberi pujian atas keberhasilan proses latihan.

Bailon dan Maglaya dalam Sudiharto (2007) menyatakan, bahwa keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka hidup dalam satu rumah tangga, melakukan interaksi satu sama lain menurut peran masing-masing, serta menciptakan dan mempertahankan suatu budaya. Keluarga adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang di rekat oleh ikatan darah, perkawinan, atau adopsi serta tinggal bersama (Sugarda, 2001). 

Friedman dalam Sudiharto (2007), menyatakan bahwa fungsi dasar keluarga antara lain adalah fungsi efektif, yaitu fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan psikososial, saling mengasuh dan memberikan cinta kasih, serta saling menerima dan mendukung. Menurut Friedman (2003) dukungan keluarga merupakan bagian integral dari dukungan sosial. Dampak positif dari dukungan keluarga adalah meningkatkan penyesuaian diri seseorang terhadap kejadian-kejadian dalam kehidupan.

Menurut Goldsworthy (1998) yang dikutip oleh Friedman (2003), bahwa ada 4 (empat) jenis dukungan sosial yaitu:
  1. Dukungan emosi, yaitu adanya rasa empati, percaya dan perhatian;
  2. Dukungan instrumental, yaitu membantu orang secara langsung, kenyamanan, dan adanya    kedekatan.
  3. Dukungan informasi, yaitu upaya memberikan informasi mengenai hal-hal yang dinilai positif dan dapat meningkatkan pengetahuan dan tindakan.
  4. Dukungan sipritual, yaitu dukungan dalam bentuk harapan, doa, pengertian dan memahami alasan-alasan.

Menurut friedman (1998), ikatan kekeluargaan yang kuat sangat membantu ketika lansia menghadapi masalah, karena keluarga adalah orang yang paling dekat hubunganya dengan lansia. Dukungan keluarga memainkan peran penting dalam mengintensifkan perasaan sejahtera. Orang yang hidup dalam lingkungan yang bersikap supportif, kondisinya jauh lebih baik dari pada mereka yang tidak memilikinya. Dukungan tersebut akan tercipta bila hubungan interpersonal diantara mereka baik.

Prestasi Belajar



Pengertian Belajar 

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku di dalam diri manusia. Bila telah selesai suatu usaha belajar tetapi tidak terjadi perubahan pada diri individu yang belajar, maka tidak dapat dikatakan bahwa pada diri individu tersebut telah terjadi proses belajar. Banyak para ahli yang mengemukakan pendapat mengenai belajar. Di antaranya adalah W.S. Winkel (1991 : 36) dalam bukunya yang berjudul: ‘Psikologi Pengajaran.’  Menurutnya, pengertian belajar adalah: “Suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai-nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas.”

Menurut S. Nasution MA (1982 : 68) belajar adalah: “Sebagai perubahan kelakuan, pengalaman dan latihan. Jadi belajar membawa suatu perubahan pada diri individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, melainkan juga membentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, minat, penyesuaian diri. Dalam hal ini meliputi segala aspek organisasi atau pribadi individu yang belajar.”
 Sedangkan Mahfud Shalahuddin (1990 : 29) dalam buku: Pengantar Psikologi Pendidikan, mendefinisikan bahwa: “Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui pendidikan atau lebih khusus melalui prosedur latihan. Perubahan itu sendiri berangsur-angsur dimulai dari sesuatu yang tidak dikenalnya, untuk kemudian dikuasai  atau dimilikinya dan dipergunakannya  sampai pada suatu saat dievaluasi oleh yang menjalani proses belajar itu.” Kemudian, Supartinah Pakasi  (1981 : 41) dalam buku: “Anak dan Perkembangannya,” mengatakan pendapatnya antara lain: “1) Belajar merupakan suatu komunikasi antar anak dan lingkungannya; 2) Belajar berarti mengalami; 3) Belajar berarti berbuat; 4) Belajar berarti suatu aktivitas yang bertujuan; 5) Belajar memerlukan motivasi; 6) Belajar memerlukan kesiapan pada pihak anak; 7) Belajar adalah berpikir dan menggunakan daya pikir; dan 8) Belajar bersifat integratif.”

Proses Pembelajaran

Menurut pengertian secara psikologis: “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baik secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.” Menurut Slameto (1995 : 2) mengatakan bahwa ciri perubahan tingkah laku dalam belajar adalah sebagai berikut: “a) Perubahan terjadi secara sadar; b) Perubahan dalam belajar bersifat kontinue dan fungsional; c) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif; d) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara;  e) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah; dan f) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.”

Menurut R. Gagne belajar didefinisikan: a) Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku; dan b) Belajar adalah penguasaan pengetahuan/keterampilan yang diperoleh dari instruksi. Teori belajar disebut juga teori perkembangan mental yang pada prinsipnya berisi tentang apa yang terjadi dan apa yang akan diharapkan terjadi pada mental anak didik yang dapat dilakukan pada usia tertentu. Maksudnya kesiapan anak didik untuk bisa belajar, sedangkan teori mengajar adalah uraian tentang petunjuk bagaimana semestinya mengajar anak didik pada usia siap untuk menerima pelajaran. 

Hakikat Belajar dan Sumber Belajar 

Istilah belajar sudah terlalu akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Di masyarakat, kita sering menjumpai penggunaan istilah belajar seperti: belajar membaca, menyanyi, berbicara; dan lainnya. Masih banyak lagi penggunaan istilah, bahkan termasuk kegiatan belajar yang sifatnya lebih umum dan tak mudah diamati, seperti: belajar hidup mandiri, menghargai waktu, berumah tangga, bermasyarakat, mengendalikan diri dan seterusnya. Belajar, merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa mengenal batas usia, dan berlangsung seumur hidup. Belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk mengubah perilakunya.

Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Tentu saja, perubahan yang diharapkan adalah perubahan ke arah yang positif atau yang lebih baik. Jadi, sebagai pertanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah terjadinya perubahan menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi terampil, dari pembohong menjadi jujur dan lain sebagainya. Kegiatan belajar, sering dikaitkan dengan kegiatan mengajar.

Begitu eratnya kaitannya, sehingga keduanya sulit dipisahkan. Kegiatan mengajar dikatakan berhasil hanya apabila dapat mengakibatkan/menghasilkan kegiatan belajar pada diri murid. Jadi, sebenarnya hakekat guru mengajar adalah usaha guru untuk membuat muridnya belajar. Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan mengajar. Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para muridnya. Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun menyajikan materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran, tetapi bukanlah satu-satunya.

Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat murid belajar. Pesan yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap murid dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada. Guru hanya merupakan salah satu (bukan satu-satunya) sumber belajar bagi murid. Selain guru, masih banyak lagi sumber-­sumber belajar yang lain. Menurut Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (AECT), (2003 : 6) sumber belajar adalah “Semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi murid. Sumber belajar itu meliputi : pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan / latar” 

Hasil dan Prestasi Belajar

Istilah hasil belajar berasal dari bahasa Belanda “prestatie,” dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Dalam literature, prestasi selalu dihubungkan dengan aktivitas tertentu, seperti dikemukakan oleh Robert M. Gagne (1988 : 65) bahwa dalam setiap proses akan selalu terdapat hasil nyata yang dapat diukur dan dinyatakan sebagai hasil belajar (achievement) seseorang. Perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh. Menurut pandangan ahli jiwa Gestalt, bahwa perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh baik perubahan pada perilaku maupun kepribadian secara keseluruhan. Belajar bukan semata-mata kegiatan mekanis stimulus respon, tetapi melibatkan seluruh fungsi organisme yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu. Dalam proses pendidikan prestasi dapat diartikan sebagai hasil dari proses belajar mengajar yakni, penguasaan, perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu.

Hasil belajar sering dipergunakan dalam arti yang sangat luas yakni untuk bermacam-macam aturan terhadap apa yang telah dicapai oleh murid, misalnya ulangan harian, tugas-tugas pekerjaan rumah, tes lisan yang dilakukan selama pelajaran berlangsung, tes akhir catur wulan dan sebagainya.

Dalam tulisan ini hasil belajar yang dimaksudkan adalah dalam pengertian yang terakhir, yaitu tes terakhir catur wulan. Oleh karena itu proposisi yang dipakai adalah sebagai berikut:
Pertama, hasil belajar murid merupakan ukuran keberhasilan guru dengan anggapan bahwa fungsi penting guru dalam mengajar adalah untuk meningkatkan prestasi belajar murid;
Kedua, hasil belajar murid mengukur apa yang telah dicapai murid; dan
Ketiga, hasil belajar (achievement) itu sendiri dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di pondok pesantren atau sekolah, yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.

Pada umumnya, untuk menilai hasil belajar murid, guru dapat menggunakan bermacam-macam “achievement test,” seperti “oral test,” “essay test” dan “objective test” atau “short-answer test”. Sedangkan untuk nilai proses belajar dan hasil belajar murid yang bersifat keterampilan (skill), tidak dapat dipergunakan hanya dengan tes tertulis atau lisan, tapi harus dengan ‘performance test’ yang bersifat praktek.

Selanjutnya Davis mengatakan bahwa dalam setiap proses belajar akan selalu terdapat hasil nyata yang dapat diukur. Hasil nyata yang dapat dikur dinyatakan sebagai prestasi belajar seseorang. Benjamin S. Bloom (1956 : 1-10) mengklasifikasi hasil belajar dalam tiga ranah yaitu: ranah kognitif (cognitive domain), ranah afektif (affective domain), dan ranah psikomotor (psychomotor domain). Hasil belajar dalam ranah kognitif terdiri dari enam kategori yaitu: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

Sedangkan ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi. Dan yang terakhir ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Hasil belajar yang diidentifikasi dalam tulisan ini mengacu pada ranah kognitif. Dalam kaitan ini Soedjarto mengemukakan pula bahwa hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh murid dalam mengikuti program belajar mengajar, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. 

Dari uraian-uraian di atas jelas bahwa suatu proses belajar mengajar pada akhirnya akan menghasilkan kemampuan seseorang yang mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dalam arti bahwa perubahan kemampuan merupakan indikator untuk mengetahui hasil prestasi belajar murid. Hasil prestasi belajar murid diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Tes ini disusun dan dikembangkan dari pokok-pokok bahasan yang dipelajari oleh murid dalam beberapa materi pelajaran di sekolah.


Galery


 


          

Lebih Dekat Dengan Epilepsi


Di Indonesia epilepsi dikenal dengan berbagai nama, diantaranya ‘ayan’, ‘sawan’, atau ‘celeng’. Namun penanggulangannya masih belum adekuat. Ini karena masyarakat masih menganggap epilepsi sebagai akibat kekuatan gaib, kutukan atau kesurupan, sehingga banyak penderita epilepsi tidak dibawa kedokter. Epilepsi juga dikaitkan dengan gangguan mental atau intelegensia rendah. Anak dengan epilepsi sering tidak atau keluar sekolah karena mendapat serangan kejang.
Padahal sebagian besar penderita epilepsi dapat bersekolah, bahkan bekerja dan hidup bahagia apabila serangan epilepsi dicegah. Jika kita berasumsi Indonesia memiliki prevalensi yang sama dengan negara lain semisal Australia, yakni 5-10 per 1000 penduduk, minimal terdapat 1.000.000-2.000.000 orang dengan epilepsi. Kedaan ini akan terus meningkat dan menimbulkan masalah sosial kecuali bila penanganan terus dilakukan.
Apa yang disebut epilepsi?
Kata epilepsi berasal dari kata Yunani epilambanein yang kurang lebih berarti “sesuatu yang menimpa seseorang dari luar hingga ia jatuh”. Kata tersebut mencerminkan bahwa serangan epilepsi bukan akibat suatu penyakit, akan tetapi disebabkan oleh sesuatu di luar badan si penderita yakni kutukan oleh roh jahat atau setan yang menimpa penderita. Dewasa ini epilepsi didefinisikan sebagai suatu gangguan atau terhentinya fungsi otak secara periodik yang disebabkan oleh terjadinya pelepasan muatan listrik secara berlebihan dan tidak teratur oleh sel-sel otak dengan tiba-tiba, sehingga penerimaan dan pengiriman impuls antara bagian otak dan dari otak ke bagian lain tubuh terganggu.
Faktor-faktor penyebab serangan epilepsi
Pelepasan muatan listrik sel-sel otak yang berlebihan dan tidak teratur tersebut disebabkan oleh terganggunya keseimbangan kimiawi sel-sel otak. Keseimbangan zat-zat kimiawi ini dapat terganggu oleh berbagai faktor, diantaranya faktor yang mempengaruhi janin, kesukaran pada waktu lahir, cedera pada sel otak, radang otak atau selaput otak, tumor otak, atau kelainan bawaan dan hormonal. Belum dapat dijelaskan mengapa gangguan keseimbangan kimiawi terjadi sewaktu-waktu saja dan mengapa pada seseorang dapat terjadi serangan dan pada orang lain tidak. Pada sebagian penderita epilepsi tidak ditemukan faktor-faktor penyebab. Epilepsi demikian disebut epilepsi primer atau idiopatik.
Peranan faktor genetik perlu dipertimbangkan dalam terjadinya serangan epilepsi.Yang diturunkan ialah ambang kejang rendah atau faktor genetik lain predisposisi yang mungkin mempengaruhi kecenderungan, durasi dan intensitas serangan epilepsi. Seorang dengan ambang kejang rendah mempunyai risiko lebih besar mengalami serangan epilepsi dibanding orang dengan ambang kejang normal. Lebih dari separuh penderita epilepsi mendapat serangan pertama di bawah usia 18 tahun. Berbagai keadaan dapat mencetuskan serangan pada orang yang menderita epilepsi, yakni diantaranya ialah demam, kurang tidur, tekanan jiwa, emosi berlebihan, haid,minuman keras dan lain-lain.
Jenis Serangan Epilepsi
Epilepsi dapat menjelma sebagai serangan yang sifatnya tergantung pada fungsi bagian otak yang terkena, termasuk jalur-jalur dalam susunan saraf pusat yang dilampaui oleh lepas muatan listrik abnormal. Dengan demikian serangan dapat berupa serangan kejang seluruh badan disertai kehilangan kesadaran (grand mal), dapat berupa serangan kejang salah satu anggota badan tanpa kehilangan kesadaraan (epilepsi fokal), serangan seperti melamun (petit mal, absence, lena),serangan kejang otot-otot (mioklonik),serangan gerakan otomatis tanpa disadari, halusinasi pengecap dan bau (epilepsi psikomotor), serangan jatuh tiba-tiba (astasi, akinesi) dan sebagainya. Gambaran lengkap suatu serangan perlu diketahui agar dapat ditentukan jenisnya, kemungkinan penyebabnya, dan pengobatannya.
Bagaimana cara terjadinya epilepsi?
Otak terdiri dari jutaan neuron penghubung yang saling berhubungan.Pada umumnya hubungan antar neuron terjalin dengan impuls listrik dan dengan bantuan zat kimia yang secara umum disebut neurotransmitter. Hasil akhir dari hubungan antar neuron ini tergantung pada fungsi dasar neuron tersebut. Dalam keadaan normal lalu lintas impuls antar neuron berlangsung dengan cepat, terus-merus dan lancar. Namun demikian bila saraf bereaksi secara abnormal, akan terjadi keadaan dimana mekanisme otak yang mengatur proses komunikasi antara saraf dan otak terganggu. Zat yang diketahui mempengaruhi mekanisme pengaturan ini adalah glutamat (mendorong kearah aktifitas berlebihan) dan kelompok GABA (=gamma-aminobutyric acid, bersifat menghambat).
Bagaimana mendiagnosa seseorang apakah terkena epilepsi?
Oleh karena konsekuensi psikologis dan sosial sangat berat, maka membuat diagnosa epilepsi dapat menciptakan disabilitas yang lebih besar dari disabilitas akibat gangguan otak itu sendiri. Karenanya, penting untuk menegakkan diagnosa epilepsi. Meskipun secara jelas dan pasti serangan atau kejang itu merupakan indikasi episode epilepsi, namun belum tentu keadaan ini secara tunggal adalah epilepsi. Kejang epileptik mungkin merupakan respon dari otak terhadap keadaan ‘withdrawal” putus alkohol atau sedatif, demam tinggi pada anak,kekurangan tidur, trauma kepala,ini adalah ‘reactive seizure’ (kejang reaktif) dan bukan epilepsy.

Tujuan Terapi

Tujuan utama terapi epilepsi adalah tercapainya kualitas hidup optimal untuk pasien,sesuai dengan perjalanan penyakit epilepsi dan disabilitas fisik maupun mental yang dimilikinya. Agar tujuan tercapai diperlukan beberapa upaya antara lain: menghentikan kejang, mengurangi frekuensi kejang, mencegah timbulnya efek samping obat anti epilepsi, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat epilepsi (Dulac O, Leppik IF 1998).

Multipe Intelligences and Education


Teori Multiple Intelligences dikembangkan pada tahun 1983 oleh Dr. Howard Gardner, professor pendidikan dari Harvard University. Teori ini menerangkan bahwa ide tradisional tentang kepandaian manusia, yang berdasar pada tes I.Q, sangatlah terbatas. Teori multiple intelligences menjelaskan bahwa ada beberapa bentuk kepandaian yang berbeda yang dimiliki oleh masing-masing individu dalam berbagai tingkatan.

Dr. Gardner mengajukan delapan jenis kepandaian yang bisa menjelaskan tentang jangkauan potensi yang lebih di dalam diri anak maupun orang dewasa, jenis kepandaian tersebut ialah   :

Kepandaian di bidang bahasa  ("pandai dalam hal kata-kata”)
Kepandaian di bidang matematika dan logika ("pandai menalar dan bekerja dengan angka")       
Kepandaian di bidang ruang ("pandai tentang gambar")
Kepandaian di bidang gerakan tubuh  ("pandai menggunakan tubuh ")
Kepandaian di bidang musik ("pandai tentang musik ")
Kepandaian di bidang interpersonal ("pandai bergaul dengan orang ")
Kepandaian di bidang intrapersonal ("pandai mengolah diri ")
Kepandaian di bidang natural ("pandai tentang alam ")

Menurut Gardner, dampak dari teori ini ialah bahwa belajar/mengajar seharusnya berfokus pada bidang kepandaian tertentu dari masing-masing orang. Multiple intelligences adalah teori psikologis tentang pikiran. Ini adalah sebuah kritik tentang ide bahwa ada kepandaian tunggal yang sudah ada sejak lahir, yang tidak bisa diubah, dan yang bisa diukur oleh ahli psikologi. Teori ini berdasar pada penelitian ilmiah dalam berbagai bidang dari psikologi sampai ke antropologi dan biologi. Teori ini tidak berdasar pada korelasi tes seperti kebanyakan teori intelligence yang lain.

Dalam teori ini dinyatakan bahwa setidaknya ada delapan jenis kepandaian manusia. Kebanyakan tes intelegensi memandang kepandaian dibidang bahasa atau logika matematika atau keduanya  itu  hanyalah dua contoh jenis kepandaian. Enam jenis kepandaian yang lain ialah di bidang musik, ruang, gerakan tubuh, interpersonal, intrapersonal, dan tentang alam.

Saya membuat dua pernyataan. Pernyataan pertama ialah bahwa semua manusia mempunyai semua jenis kepandaian ini. Ini merupakan bagian dari definisi spesies kita. Pernyataan kedua ialah bahwa, keduanya dikarenakan oleh faktor genetika dan lingkungan kita, tidak ada dua orang yang mempunyai bentuk kepandaian yang persis sama bahkan orang kembarpun tidak, karena pengalaman mereka berbeda-beda. Dari sini kita bisa mengubah ilmu alam ke pendidikan. Jika kita semua mempunyai berbagai macam pikiran, kita memiliki pilihan. Kita bisa baik mengabaikan perbedaan itu maupun mengajari setiap orang hal yang sama dengan cara yang sama dan menilai setiap orang dengan cara yang sama. Atau kita bisa mengatakan, lihat, orang-orang belajar dengan cara yang berbeda, dan mereka memiliki kekuatan dan kelemahan intelektual yang berbeda-beda.

Marilah kita pertimbangkan bagaimana kita mengajar dan bagaimana kita menilai.
8 macam kepandaian menurut Gardner :

Kepandaian di bidang gerakan tubuh

Salah satu dari jenis kepandaian yang kontroversial dari Gardner ialah kepandaian di bidang gerakan tubuh.Setiap orang mempunyai kontrol tertentu terhadap gerakan, keseimbangan, kecepatan, dan  postur dari tubuhnya. Bagi individu yang luar biasa, seperti Michael Jordan, Babe Ruth, or Jackie Joyner Kersey, kekuatan kepandaian di bidang gerakan tubuh muncul bahkan sebelum mereka mulai latihan formal. Mereka semua memiliki indra alami tentang bagaimana tubuh mereka seharusnya beraksi dan bereaksi di dalam situasi fisik yang sulit. Ini sudah lama diketahui bahwa setiap belahn otak mengontrol sisi sebaliknya dari gerakan tubuh, dan dalam kasus apraxia atau kondisi yang lain, beberapa orang tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol otot dengan mudah. Namun beberapa orang berpendapat bahwa kontrol fisik bukan merupakan gambaran dari bentuk kepandaian. Tetapi karya Gardner dan peneliti MI lainnya menganggap kemampuan di bidang gerakan tubuh merupakan gambaran kepandaian

Kepandaian Interpersonal

Walaupun orang mempunyai kemampuan fisik untuk hidup secara individu dan sendirian, kita juga merupakan makhluk sosial yang berkembang dan bertumbuh bila kita berhubungan dengan yang lainnya. Kemampuan ini untuk berinteraksi dengan orang lain, memahami mereka, dan menafsirkan tingkah laku mereka di sebut sebagai kepandaian interpersonal atau kepandaian bergaul. Menurut Gardner kepandaian interpersonal dipandang dalam bagaimana kita “memperhatikan perbedaan diantara orang lain; khususnya, dibanding dengan kerangka pikiran, kepribadian, dan motivasi dan maksud mereka." Mengapa orang tertentu menjadi ahli politik, pemimpin, atau pendeta? Kepandaian interpersonal yang dikembangkan dengan baik memainka peranan yang  penting untuk mencapai kesuksesan itu. Dari pandangan psikologis dan neurologis, hubungan antara kepandaian interpersonal dan otak telah diteliti dari dulu sampai sekarang; kerusakan pada bagian otak depan, seperti dalam kasus pasien lobotomi, akan mengakitbatkan terganggunya kepribadian dan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kepandaian interpersonal membuat kita bisa mempengaruhi orang lain dengan cara memahami mereka; tanpa kepandaian ini, kita kehilangan kemampuan untuk hidup secara sosial.

Kepandaian di bidang Intrapersonal (Kepandaian memahami diri sendiri)

Kepandaian jenis ini mirip dengan jenis kepandaian interpersonal, yaitu kemampuan kognitif untuk mengerti dan memahami “diri” kita sendiri. Kepandaian intrapersonal ini menjadikan kita bisa hidup dan merasa ada – siapa kita, perasaan apa yang kita miliki, dan mengapa kita seperti ini. Kepandaian intrapersonal yang kuat bisa menuntun kita untuk memiliki harga diri, perkembangan diri, dan kekuatan karakter yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah internal. Sebaliknya, bila kepandaian ini lemah – seperti pada anak yang autistik – maka akan menganggap dirinya  sendiri terpisah dengan lingkungan sekitarnya. Kepandaian jenis ini sering tidak bisa diketahui dari luar jika kepandaian ini tidak diungkapkan dalam bentuk yang tak bisa dilihat, misalnya marah atau senang, atau bentuk yang bisa dilihat seperti puisi atau lukisan.  

Kepandaian di bidang bahasa

Semua orang dari semua budaya memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa. Sementara beberapa orang bisa menguasai hanya tingkat dasar komunikasi, beberapa yang lain telah menguasai banyak bahasa dengan baik dan mudah. Joseph Conrad, contohnya, telah mempelajari Bahasa Inggris sebagai seorang pelaut setelah meninggalkan negara aslinya yaitu Polandia, namun karyanya seperti Heart of Darkness and Lord Jim merupakan prestasi terbesar dalam dunia sastra Inggris. Selama bertahun-tahun, para peneliti telah mengetahui hubungan antara bahasa dan otak. Kerusakan pada sebagian dari otak, seperti  Broca's Area, akan menyebabkan seseoranga kehilangan kemapuan untuk mengekspresikan mereka sendiri dalam kalimat yang bertatabahasa yang benar, walaupun kemampuan kosa kata dan kalimat orang itu masih utuh. Seperti yang dicatat Howard Gardner, bahkan anak-anak kecil dan individu yang tuli akan mulai mengembangkan bahasa unik mereka sendiri ketika mereka tidak diberi alternatif. Kemampuan seorang untuk membangun dan memahamai bahasa mungkin bervariasi, tetapi sifat-sifat kognitif masih universal

Kepandaian di bidang logika dan matematika

Bagian kepandaian yang paling banyak diketahui ialah kepandaian di bidang logika dan matematika. Kepandaian ini ialah kemampuan untuk memproses masalah dan persamaan di dalam pikiran, ini adalah jenis kepandaian yang sering sering diukur di dalam tes standard pilihan berganda. Kepandaian di bidang logika dan matematika ini sering tidak memerlukan banyak bicara verbal, karena kita bisa memecahkan masalah yang kompleks di dalam kepala kita, baru bicara bila masalh telah dipecahkan   (fenomena "Aha!" seperti yang sebutka Gardner). Lagi pula, individu yang mempunyai kemampuan logika matematika yang tinggi mampu memproses pertanyaan logika dengan sangat cepat. Sebelum berkembangnya teori MI, kepandain jenis ini dianggap sebagai kepandaian hakiki,  “kepandaian dasar” yang sangat dihargai oleh kebudayaan barat. Walaupun teori MI setuju bahwa kepandaian jenis ini memang kunci dari kepandain , ini tidak berarti bahwa jenis kepandaian ini sajalah yang harus dijelajahi dan dikembangkan.  Additionally, individuals who have high logical-mathematical abilities are able to process

Kepandaian di bidang Musik

Howard gardner menyatakan contoh pemain biola violinist Yehudi Menuhin, sebagai  contoh yang jelas dari kepandaian di bidang musik yang palign halus, ketika dia berusia tiga tahun, Yehudi Menuhin diseludupkan ke konser San   Francisco Orchestra oleh orang tuanya. Suara biola dari Louis Persinger sangat mengagunmkan anak muda ini sehingga dia menghadiahi biola di ulang tahunnya dan Lois Persinger menjadi gurunya. Dia mendapat keduanya. Menjelang umur sepuluh tahun, Menhuin menjadi pemusik yang tampil di internasional, dalam kasus Menhuim, atau Mozart, Saint-Saens, Boulez dan anak ajaib lainnya, musik datang secara “alami.” Kemampuan untuk menampilkan dan mengarang musik telah   dikenal secara ilmiah berada dalam daerah otak , dan  kasus anak cacat dan autistik yang bisa menampilkan secara baik tetapi tidak bisa bicara atau berinteraksi dengan orang lain menunjukkan fakta ini. Setiap individu memiliki kemampuan musik yang berbeda-beda, bahkan ada orang yang sama sekali tidak tahu musik, namun terus hidup dengan sukses. Ringkasnya, walaupun kemampuan musik nampaknya tidak merupakan bentuk kepandaian yang sejelas kemampuan di bidang matematika dan logika, dari pandangan neurologis, kemampuan kita untuk menampilkan dan mengarang musik nampak bekerja secara bebas dari bentuk kepandaian.

Kemampuan di bidang Alam

Sekarang-sekarang ini ada tambahan dalam daftar jenis kepandaian, yaitu kepandaian dibidang alam. Kepandaian ini ialah kemampuan seorang untuk mengenal dan mengklasifikasikan pola-pola alam. Selama jaman pra sejarah, manusia berburu dan meramu sangat menggantungkan pada kepandaian jenis ini untuk membedakan flora dan fauna mana yang aman dan tidak. Sekarang ini kepandaian di bidang alam mungkin dipandang sebagai suatu cara untuk menghubungkan kita dengan lingkungan sekitar kita dan peranan yang dimainkan oleh lingkungan sekitar kita. Orang yang peka terhadap perubahan pola cuaca atau yang pandai membedakan nuansa antara banyak obyek yang nampak mirip mungkin adalah orang yang mengungkapkan kepandaian jenis ini.

Kepandaian di bidang ruangan

Kemampuan kita untuk menggunakan kepandaian jenis ini paling dapat dilihat pada bagaimana kita memahami bentuk dan gambar dalam tiga dimensi. Misalnya menggabungkan potongan-potongan gambar menjadi satu gambar,  membuat patung, atau menavigasi laut dengan menggunakan bintang sebagai panduan, kita memanfaatkan kepandaian jenis ini untuk mengindra dan menafsirkan sesuatu yang bisa dan tidak bisa di lihat secara fisik. Perkembangan di bidang ilmu neurologi, sekarang telah memberikan bukti-bukti jelas tentang  peranan jenis kepandaian ini yang letaknya di belahan otak sebelah kanan kepada para peneliti. Pada contoh yang jarang terjadi, kerusakan otak tertentu bisa menyebabkan orang kehilangan kemampuan untuk mengenal dimana mereka atau bahkan mengenal sanak keluarga mereka sendiri. Walaupun mereka melihat orang lain atau tempat lain dengan sangat baik (beberapa pasien telah menunjukkan ini dengan kemampuan menggambar yang sangat jelas), mereka tidak mampu memahami siapa yang mereka lihat atau dimana mereka berada. Lagi pula, dengan kasus melihat orang cacat  dapat dibedakan antara kemampuan ruangan dan persepsi visual. Seorang yang buta mungkin merasa sebuah bentuk dan mengenalnya dengan mudah, walaupun mereka tidak bisa melihatnya. Karena kebanyakan orang menggunakan kepandaian di bidang ruang dalam kaitannya dengan pandangan, keberadaannya sebagai  unsur kognitif yang mandiri mungkin tidak nampak jelas, tetapi perkembangan ilmu alam menjelaskan bahwa jenis kepandaian ini adalah bagian dari kepandaian yang berdiri sendiri.